Kisah Kakek Penjual Rempeyek di Jogja, Sering Tidur di Atas Becak Karena Alasan Ini

Posted on Loading...

Walau level bahasa kromoku pas2an aku tetep berusaha berbicara setidaknya bahasa jawa dengan beliau sehalus mungkin
sontak orang2 langsung melirik padaku….

Entah para pembeli makaroni ng*** yang mayoritas anak muda sampai orang2 yang dijalan raya…..

Harga rempeyeknya 5000 perplastik itupun titipan juragan katanya….

Juragannya itu bos besar yang udah jual sampai keluar daerah, untung dari rempeyek 1 plastiknya 500 perak dan setiap bawa 120 plastik alhamdulliah selalu habis ujar beliau.

Aku tanya rumahnya dimana mbah…katanya diimogiri, dan jualannya itu ga pasti katanya….bisa muter2.

Teringat aku bawa kotak bekal isi roti bakar selai buah naga yang q buat tadi pagi aku tawarkan ke simbah, dan simbah mengeluarkan kresek hitam sebagai alas roti yang q bawa

Wlw q bilang selainya q buat sendiri dari buah naga tapi simbah tampak tidak paham buah naga itu apa, komentarnya adalah manis untunglah setidaknya cukup senang dengan giginya yang tinggal 1 rotiku bisa dimakan simbah dan katanya beliau belum makan

Btw simbah katanya sih tiap sore tetep pulang ke imogiri habis jualan naik angkot n becak sukurlah~ cuma kalau hujan katanya tidur bareng sama tukang becak katanya…..

Anaknya 3 tersebar dibeberapa daerah dan 1nya di Lempuyangan, beliau sudah punya cucu.

Hingga akhirnya percakapan aku rasa cukup dan saatnya berpamitan dengan beliau….

*Baca Lebih Lengkap Di Halaman Selanjutnya:

Halaman selanjutnya »